UST. AA. ABDUL HAMID,S.Pd.I - SENANGNYA MENCARI ILMU

SENANGNYA MENCARI ILMU
Ayat dan Hadits
berikut ini berisi pesan-pesan mulia tentang mencari ilmu dan menyampaikannya
kepada sesama. Bacalah dengan tartil ayat di bawah ini !
Terjemah :
“Dan tidak sepatutnya
orang-orang Mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari
setiap golongan diantara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama
mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah
kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya” (QS. At-Taubah:122)
QS. At-Taubah (9)
Ayat 122 mengandung pesan-pesan yang mulia, yaitu :
1. Bagaimana
seharusnya tugas-tugas dibagi sehingga tidak semua mengerjakan satu jenis
pekerjaan saja.
2. Pentingnya
memperdalam ilmu dan menyebarluaskannya.
3. Jihad itu tidak
hanya difahami dengan mengangkat senjata, tetapi memperdalam ilmu pengetahuan
dan menyebarluaskannya juga termasuk kedalam jihad.
Ibnu Abu Hatim
mengetengahkan sebuah hadis melalui Ikrimah yang menceritakan, bahwa ketika
diturunkan firman-Nya berikut ini, yaitu, "Jika kalian tidak berangkat
untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kalian dengan siksa yang pedih."
(QS. At-Taubah:39). Tersebutlah pada saat itu ada orang-orang yang tidak
berangkat ke medan perang, mereka berada di daerah badui (pedalaman)
karena sibuk mengajarkan agama kepada kaumnya. Maka orang-orang munafik
memberikan komentarnya, "Sungguh masih ada orang-orang yang tertinggal
di daerah-daerah pedalaman, maka celakalah orang-orang pedalaman itu."
Kemudian turunlah firman-Nya yang menyatakan, "Tidak sepatutnya bagi
orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang)." (QS.
At-Taubah:122).
Ibnu Abu Hatim
mengetengahkan pula hadits lainnya melalui Abdullah bin Ubaid bin Umair yang
menceritakan, bahwa mengingat keinginan kaum Mukminin yang sangat besar
terhadap masalah jihad, disebutkan bahwa bila Rasulullah SA mengirimkan pasukan
perang, maka mereka semuanya berangkat. Dan mereka meninggalkan Nabi SAW di
Madinah bersama dengan orang-orang yang lemah. Maka turunlah firman Allah SWT
surah At-Taubah ayat 122 tersebut.
Ayat ini berkenaan
dengan kepergian mempelajari ilmu dan hukum-hukum ad-Din, atau panggilan
umum untuk berjihad. Surat ini termasuk surat Madaniyah karena turun di Madinah
pada saat peperangan. Ayat ini menunjukkan, bahwa jihad itu dapat dengan harta
kekayaan, dapat pula dengan jiwa. Barangsiapa mampu melakukan semuanya, maka wajib
melakukannya. Tetapi jika hanya mampu 1 diantara keduanya, maka yang ia mampu
itulah yang wajib ia lakukan.
Dalam ayat ini, Allah
SWT menerangkan bahwa tidak perlu semua orang mukmin berangkat ke medan perang,
bila peperangan itu dapat dilakukan oleh sebagian kaum muslimin saja. Tetapi
harus ada pembagian tugas dalam masyarakat, sebagian berangkat ke medan perang,
dan sebagian lagi bertekun menuntut ilmu dan mendalami ilmu-ilmu agama Islam
supaya ajaran-ajaran agama itu dapat diajarkan secara merata, dan dakwah dapat
dilakukan dengan cara yang lebih efektif dan bermanfaat serta kecerdasan umat
Islam dapat ditingkatkan.
Orang-orang yang
berjuang di bidang pengetahuan, oleh agama Islam disamakan nilainya dengan
orang-orang yang berjuang di medan perang. Dalam hal ini Rasulullah saw. telah
bersabda:
Artinya :
“Dari Anas
bin Malik berkata, Rasulullah
SAW.
bersabda: Di akhirat nantitinta ulama ditimbang dengan darah para syuhada.
Ternyata yang lebih berat adalah
tinta ulama
dibandingkan dengan darah syuhada”.
(HR Ibnu
Najar)
B.Hadist-Hadist Tentang Senangnya Mencari Ilmu
Menuntut ilmu adalah suatu kewajiban
bagi setiap muslim dan di bawah ini ada beberapa hadits yang berhubungan
dengan menuntut ilmu. Semoga bermanfaat.
Hadits riwayat Ibnu Abdil Bar
قَالَ
رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اُطْلُبُوْاالْعِلْمَ
وَلَوْ بِالصِّيْنَ فَاِنَّ طَلَبَ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ
مُسْلِمٍ اِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَضَعُ اَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ
رِضًابِمَا يَطْلُبُ
Artinya: “Tuntutlah
ilmu walaupun di negeri Cina, karena sesungguhnya menuntut ilmu itu
wajib bagi setiap muslim. Sesungguhnya para malaikat meletakkan
sayap-sayap mereka kepada para penuntut ilmu karena senang (rela) dengan
yang ia tuntut. (H.R. Ibnu Abdil Bar).
Penjelasan Hadits:
Hadits yang diriwayatkan oleh
Ibnu Abdil Bar di atas menunjukkan bahwa menuntut ilmu itu wajib dan
para malaikat turut bergembira.
Agama Islam sangat memperhatikan
pendidikan untuk mencari ilmu pengetahuan karena dengan ilmu
pengetahuan manusia bisa berkarya dan berprestasi serta dengan ilmu,
ibadah seseorang menjadi sempurna. Begitu pentingnya ilmu, Rasulullah
saw. mewajibkan umatnya agar menuntut ilmu, baik laki-laki maupun
perempuan.
Umat Islam wajib menuntut ilmu yang
selalu dibutuhkan setiap saat. Ia wajib shalat, berarti wajib pula
mengetahui ilmu mengenai shalat. Diwajibkan puasa, zakat, haji dan
sebagainya, berarti wajib pula mengetahui ilmu yang berkaitan dengan
puasa, zakat, haji, dan sebagainya sehingga apa yang dilakukannya
mempunyai dasar. Dengan ilmu berarti manusia mengetahui mana yang harus
dilakukan mana yang tidak boleh, seperti perdagangan, batas-batas mana
yang boleh diperbuat dan mana yang dilarang.
Menuntut ilmu tidak hanya
terbatas pada hal-hal ke akhiratan saja tetapi juga tentang keduniaan.
Jelaslah kunci utama keberhasilan dan kebahagiaan, baik di dunia maupun
di akhirat adalah ilmu. Rasulullah saw. pernah bersabda:
مَنْ
اَرَادَالدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَالاَخِرَةَ
فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالَعِلْمِ
Artinya: “Barangsiapa
menghendaki kehidupan dunia maka dengan ilmu, dan barangsiapa yang
menghendaki kehidupan akhirat maka dengan ilmu, dan barangsiapa yang
menghendaki keduanya (kehidupan dunia dan akhirat) maka dengan ilmu.”
Untuk kehidupan dunia kita
memerlukan ilmu yang dapat menopang kehidupan dunia, untuk persiapan di
akhirat. Kita juga memerlukan ilmu yang sekiranya dapat membekali
kehidupan akhirat. Dengan demikian, kebahagiaan di dunia dan di akhirat
sebagai tujuan hidup insya Allah akan tercapai.
Untuk memperoleh pengetahuan,
perlu ada usaha. Oleh karena itu, Rasulullah saw. pernah meminta umat
Islam agar menuntut ilmu walaupun ke negeri Cina. Dianjurkannya memilih
negeri Cina pada saat itu, karena kemungkinan peradaban Cina sudah maju.
Di lain hadits Rasulullah juga menegaskan bahwa menuntut ilmu itu tidak mengenal batas usia:
اُطْلُبُوْاالْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلَى اللَّحْدِ
Artinya: “Tuntutlah ilmu mulai dari buaian sampai liang lahat.”
Selanjutnya dijelaskan oleh
Rasulullah bahwa para malaikat membentangkan sayap-sayapnya kepada
orang-orang yang menuntut ilmu karena senangnya. Begitu pentingnya ilmu
pengetahuan bagi seseorang sehingga malaikat bangga dengannya.
Di samping itu, para penuntut
ilmu dijanjikan oleh Rasulullah saw. akan diberikan kemudahan jalan ke
surga. Perhatikan hadits di bawah ini:
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا اِلَى الْجَنَّةِ ـ رواه مسلم
Artinya: “Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).
Imam As-Syafi’i mengatakan:
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ , وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
Artinya: “Barang siapa menghendaki (kebaikan) dunia, maka hendaknya ia
menggunakan ilmu, dan barang siapa menghendaki kebaikan akhirat, maka
hendaknya menggunakan ilmu”.
Menurut Al-Ghazali Ilmu, pengetatahuan itu indah, mulia dan utama.
Tetapi, selama keutamaan itu sendiri masih belum dipaham, dan yang
diharapkan dari keutamaan itu masih belum terwujud, maka tidak mungkin
diketahui bahwa ilmu adalah utama.
Keutamaan adalah kelebihan. Jika ada dua benda yang sama, sementara
salah satunya mempunyai kelebihan, maka benda itu bisa disebut utama,
kalau memang kelebihan yang dimaksud adalah kelebihan dalam sifat
kesempurnaan.
Sesuatu yang indah dan disenangi ada tiga macam, yaitu: sesuatu yang
disenangi karena ada faktor lain diluarnya, sesuatu yang disenangi
karena nilai eksentriknya dan sesuatu yang dicari karena nilai
eksentriknya juga karena ada faktor lain diluarnya.
Uang adalah sesuatu yang disenangi. Tetapi ia disenangi bukan karena
nilai eksentriknya tetapi karena ada faktor lain berupa dapat dibuatnya
uang untuk mendapatkan yang lain. Kebahagiaan adalah sesuatu yang
disenangi karena nilai eksentriknya, artinya ia disenangi karena
kebahagian itu sendiri. Sedangkan sesuatu yang disenangi karena ada
faktor lain dari luar dan juga karena nilai eksentriknya dapat
dicontohkan seperti kesehatan badan. Kesehatan badan disamping bisa
dibuat untuk memperoleh tujuan dan kebutuhan lain, ia juga disenangi
karena didalamnya sendiri ada nikmat dan kenyamanan. Dari ketiga macam
hal di atas, yang tentunya lebih utama adalah yang ketiga.
Apabila memandang ilmu pengetahuan, maka ia termasuk yang ketiga. Ilmu
itu sendiri adalah keindahan dan kelezatan, disamping ia dapat dijadikan
perantara mendapatkan kebahagian, baik di dunia maupun akhirat. Dengan
ilmu kedekatan kepada Allah dapat diraih, kelas lebih tinggi para
malaikat dapat diperoleh dan status sosial yang tinggi di surga dapat
dinikmati. Dengan ilmu kemulian dunia, pengaruh, pengikut, kemewahan,
kekuasaan dan kehormatan dapat diperoleh. Bahkan binatang pun secara
naluri akan tunduk kepada manusia karena ilmu yang dimilikinya. Inilah
kesempurnaan ilmu secara mutlak
Ali bin Abi Thalib berkata kepada Kumail:
“Wahai Kumail, ilmu itu lebih utama dari pada harta karena ilmu itu
menjagamu, sedangkan kamu menjaga harta. Ilmu adalah hakim, sedang harta
adalah yang dihakimi. Harta menjadi berkurang jika dibelanjakan,
sedangkan ilu akan berkembang dengan diajarkan kepada orang lain”.
Menurut Al-Mawardi, keutamaan dan pentingnya ilmu dapat diketahui oleh
semua orang. Yang tidak dapat mengetahuinya hanya orang-orang bodoh.
Perkataan ini adalah petunjuk bagi keutamaan ilmu yang lebih mengena,
karena keutamaan ilmu hanya dapat diketahui oleh ilmu itu sendiri.
Ketika seseorang tidak berilmu untuk mengetahui keutamaan ilmu, maka ia
meremehkan ilmu, menganggap hina para pemilinya, dan menyangka bahwa
hanyalah kekayaan dunia yang akan mengantarkannya kepada sebuah
kebahagiaan.
Al-Mawardi juga mengatakan bahwa, ilmu amatlah luas, jika di pelajari
tidak akan pernah selesai, selama bumi masih berputar, selama hayat di
kandung badan selama itu pula manusia memerlukan ilmu pengetahuan islam
tidak hanya cukup pada perintah menuntut ilmu, tetapi menghendaki agar
seseorang itu terus menerus melakukan belajar, karena manusia hidup di
dunia ini perlu senantiasa menyesuaikan dengan alam dan perkembangan
zaman. Jika manusia berhenti belajar sementara zaman terus berkembang
maka manusia akan tertinggal oleh zaman sehingga tidak dapat hidup layak
sesuai dengan tuntutan zaman, terutama pada zaman sekarang ini, zaman
yang di sebut dengan era globalisasi, orang di tuntut untuk memiliki
bekal yang cukup banyak, berupa ilmu pengetahuan.
TERIMA KASIH,SEMOGA BERMANFAAT YA:)










0 komentar: